Tampilkan postingan dengan label free. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label free. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Oktober 2012

Novel: Ari Cinta 10


SEPULUH ( ˘ ³˘)♥
 Pagi ini seperti biasa aku diantarkan kesekolah bersama papa tercinta. Hari ini memang classmeet disekolah. Jadi tidak perlu repot-repot membawa buku pelajaran lagi. Saat-saat seperti ini merupakan surga dunia bagi anak sekolah. Dimana kita bebas melakukan apa saja yang penting tetap positif disekolah. Kecuali bagi anak yang punya tanggungan remidial.
Tampak Mia dan Excell tengah asik duduk di bangku koridor sekolah. Ku hampiri mereka dengan wajah Ceria. Secerah hari ini dengan adanya matahari yang begitu terik.
“ Haiii..” sapaku mengagetkan mereka yang tampaknya tengah asik mengerjakan soal Fisika
“ ih ocha.. ngagetin aja sih” keluh Mia yang masih tampak kaget dengan mengelus-elus dadanya. Sedangkan Excell masih tampak sibuk dengan soal yang di kerjakannya.
“ garap apa sih cell. Serius banet” godaku mengganggu Excell dengan mengambil soal yang dikerjakannya.
“ apaan sih cha. Balikin gak” pinta Excell sembari merampas begitu saja soal tersebut dari tanganku dengan kasar. Membuat hatiku terenyuh dan bungkam seketika.
Aku hanya terdiam setelah Excell memperlakukanku seperti itu. Tampaknya Excell memang sedang tak ingin di ganggu. Mia tampak melirik ke arahku dengan memberi Isyarat agar aku tak menggaggunya terlebih dahulu.
Selesai Excell mengerjakan soal yang di kerjakannya. Suasana jadi hening seketika.
“ eh, ntar jalan ke mall yuk. Kan udah selesai nih ujiannya. Brarti udah pada bebas dunk” kata Mia berusaha mencari toppik pembicaraan untuk mencairkan suasana pagi ini
“ wah, boleh boleh. Sekalian aku mau cari kaus kaki “ jawabku antusias”trus mampir di cafe biasa ya”
“ aku gak ikut deh. Soalnya ntar ada acara sama anak Pramuka” potong Excell menolak ajakan Mia “ eh, aku ke Rio dulu ya. Soalnya tadi mau ke bu Mus buat nganterin soal ini sama jawabannya” pamit Excell mohon undur diri dan langsung pergi dari hadapan kami
“ eh, si Excell kenapa sih?” tanya ku pada Mia yang hanya mendapat respon gelengan kepala dan angkat bahu oertanda dia juga tidak tau kenapa.
“ aneh banget deh dia hari ini. Mana mukanya lecek gitu” kataku mengoreksi penampilan Excell yang memang tampak tidak seperti biasanya itu.
“ udahlah, plingan dia Cuma lagi gak pengen di ganggu aja kali ini” lanjut Mia
“jadi ntar jadi gak nih jalan. Bikin gue males aja tuh orang” protesku
“gakusah deh, tunggu dia mau aja jalan bareng”
Yah, hari ini memang cukup bête. Padahal seharusnya waktu classmeet seperti ini adalah waktu yang menyenangkan, namun kali ini sebaliknya. Kuputuskan untuk duduk di pinggiran taman depat sekolah sembari melihat anak-anak main volley bersama Mia. Tampak dari kejauhan Nico mendekatiku.
“ Hai cha” sapa Nico saat sudah berada di hadapanku
“ hai kak.. dari mana nih? Enggak remedial?” tanyaku basa basi
“ weh, nico remedial? Enggak dunk cha.. hehhe”
“ hahahaha ya sapa tau. Kan aku Cuma Tanya kak”
“ eh, ntar pulang bareng ya” pinta Nico. Aku terdiam beberapa detik kemudian.
“ em.. boleh deh kak” balasku mengiyakan ajakan Nico itu. Dan dia pamit undur diri menjauh dari taman sekolah.
“ eh cha, kamu gak pulang sama Excell kah?” Tanya Mia
“ enggak deh. Kamu tau sendiri dia kayak gitu tadi. Apa iya dia mau nganterin balik. Toh dia lagi sibuk sama pramukanya tuh” celotehku panjang lebar sembari menikmati permainan volley di tengah lapangan yang sedang berlangsung.
“ ya ampun ocha, gak peka banget sih” keluh Mia
“ peka apanya sih?” tanyaku masih tidak dapat memahami kata-kata Mia. Namun Mia tidak mempunyai inisiatif untuk melanjutkan pembicaraan kita.
( ˘ ³˘)♥
Ini merupakan hari kedua clasmeet disekolah. Suasana disekolah masih tetap ramai seperti hari kemarin. Ada yang tengah asik berolahraga baik itu volley, futsal, badminton, maupun yang lainnya. Ada pula yang sekedar nongkrong dan ngobrol dengan temannya. Dan  Kali ini aku lebih memilih  untuk nongkrong dikantin bersama Mia dan Excell juga.
“ Cie.. senengnya yang habis di anterin sama Nico, jadi lupa daratan” sindir Mia ketika menyadari aku tengah melamun dan cengar-cengir sendiri
“ apaan sih ngaco deh”
“ awas, hati-hati aja. Mendingan jangan terlalu ngasih hati deh sama dia. Kamukan belum tau dia orangnya gimana” jelas Excell tiba-tiba
“ em.. enggak kok, dia baik kok cell. Malah kemarin waktu pulang bareng dia ngasi aku kalung ini” terangku sembari menunjukkan kalung pemberian Nico yang aku pakai hari ini. “ duh, perhatian banget deh dia pokoknya”
“ ya udah kalau gak percaya” terang Excell
Saat kami tengah asik ngobrol, tiba-tiba merry datang menghampiri kami.
“ hai..” sapanya  basa-basi “ eh, sorry ya ganggu ada perlu sama Excell nih” pinta Merry berpamitan terlebih dahulu pada kita. Syukur deh kalau tau diri bahwasannya dia menggaggu pembicaraan kami yang mulai seru ini.
“ ada apa mer?” Tanya Excell yang di ikuti merry duduk disamping Excell
“ eh, ntar di suruh Kirim proposal kemah secepatnya nih ke pak Broto. Tapi proposalnya masih belum kelar. Ntar bantuin nyusunnya ya di bascamp pramuka” pinta Merry
“ oke deh, lhat ntar aja yah mer” jawab excel. Sedangkan Merry mengiyakan dan pamit undur diri.
“ yah, pertanda ntar gak dapet tebengan deh gue kayae” selaku tiba-tiba saat merry telah undur diri. Niatnya sih ngajak  bercnda Excell
“ hem.. bukannya sekarang udah punya ojek baru ya?” cibir Excell
“ ye.. tapikan enggak segitunya kali. Masak iya mau tiap hari. Kalau gak di ajakin ya enggak enak lah cell” terangku
“oh, jadi gue Cuma di buat ban serep nih? Trus sama gue enak-enak aja gitu “
“ ya gak gitu juga sih. Ih kamu knapa sih. Orang Cuma bercanda ini. Kalau gak ikhlas di tebengin ya udah. Gak bakalan deh aku nebeng lagi” jawabku ketus
Suasana menjadi hening beberapa saat saat percakapan antara aku dan Excell mulai menimbulkan perdebatan batin ini. Walaupun fisik kami tampak biasa dan tidak ada pertentangan.namun aku yakin saat ini sedang terjadi perdebatan batin antara aku dan Excell. Excel tampak aneh akhir-akhir ini.
“ udah ah, mendingan kita besok pulang sekolah jalan-jalan sambil nonton. Gimana?” Tanya Mia menengahi. Aku yakin Mia pun merasakan hal yang sama sepertiku
“ lhat besok deh” jawabku dan Excell hampir bersamaan.
( ˘ ³˘)♥
Pulang sekolah kali ini beruntung ada Nico yang menawarkanku untuk pulang bareng. Jadiaku tidak perlu susah payah untuk naik angkot. Apalagi di cuaca yang terik seperti ini. Sejak pembicaraanku dengan Excell tadi aku bertekat enggan pulang bersama Excell kalau bukan dia yang ngajakin. Lebih baik naik anglot dari pada harus mengemis padanya.
Namun saat di gerbang sekolah, tak sengaja aku melihat Excell dan Merry tampak asik bercanda di atas motor Excell. Tampaknya mereka akan keluar bersama. Tapi entah kemana. Bukankah tadi Merry meminta Excell buat bikin proposal untuk kemah? Tapi kok malah keluyuran? Emang modus aja kali tuh si Merry! Keluhku dalam hati. Entah mengapa terbesit rasa tidak rela melihat Excell bersama orang lain kecuali aku dan Mia. Membuatku cemburu social. Ah, kenapa jadi jealous begini. Itukan urusan mereka. Toh, aku pulang sama Nico Excell tidak pernah protes sama aku.
“ ayo cha” ajak Nico yang membubarkan lamunanku tentang Excell
“ oh, iya kak” balasku sembari menaiki motor Nico.
Sepanjang  perjalanan entah mengapa aku tidak merasakan kebahagiaan seperti biasanya saat aku bersama Nico. Kali ini ada sesuatu yang beda dan membuatku tak nyaman. Apakah iya karena Excell tadi? Ah, bukan. Mungkin saja Karena kecapekan hari ini.
Sesampai dirumahpun moodku masih tetap buruk. Dengan malas-malasan aku menuju kamarku. Ku hempaskan tubuhku ke ranjang yang empuk. Pikiranku masih saja tetap melayang entah kemana.
Arghh.. Excell sial. Kenapa pula dia merusak hari indahku bersama Nico. Apakah karna sikapnya yang tiba-tiba cuek? Yah, akhir-akhir ini Excell tampak cuek, dingin dan lebih tertutup. Kalaupun dia deket sama cewek kenapa pula dia enggak cerita-cerita. Biasanya aja ada cewek cakep dikit udah heboh. Tapi kali ini beda. Padahal aku aja cerita kalau lagi deket sama Nico. Argh… Membuatku bingung akan sifat dia belakangan ini. Sering menjauh juga dari aku dan Mia.  Entahlah.
Seperti ada yang mulai menghilang dari hidupku kali ini. Mungkin karena persahabatanku dan Mia telah lama sehingga ketika ada yang menjauh seperti ini merasa tidak lengkap lagi. Semoga saja hubungan kita akan membaik secepatnya. Mungkin saja Excell bersikap seperti ini karena dia memang benar-benar sibuk dengan Organisasi pramukanya. Bukan untuk menghindariku ataupun Mia. Karena memang beberapa waktu yang lalu Excell sempat menceritakan bahwa dia tengah sibuk mempersiapkan kemah akbar utnuk libur smester ini.
Saat tengah asik dengan pikiranku sendiri. Tiba-tiba akun ingat DVD-ku Di mas Revan yang baru ku beli beberapa waktu yang lalu bersama Nico. Mumpung lagi suntuk, tak ada salahnya untuk nonton sejenak saja. Akupun bergegas menuju kamar Mas Revan.
“ mas, DVD nya mana? “ tanyaku pada Mas Revan yang tampak sibuk mengetik di laptopnya
“uh, ada di laci dek” sahut mas Revan yang masih tetap vokus dengan ketikannya
“eh kak, Mas Denies apa kabar dia? Kok udah lama enggak tau kabarnya” tanyaku usil saat teringat Azka
“ cie-cie, kenapa nih Tanya-tanya si Denies?” kata  mas Revan yang mengalihkan perhatiannya ke arahku.
“ ye, apaan sih kak” sahutku sembari melemparkan bantal ke arah kursi belajar Mas revan. Namun naas, bantal itu bukannya mengenai Mas revan justru terlempar jauh disamping Mas revan dan mengenai tubuh seorang lelaki yang berdiri didepan kamar mandi Mas Revan.
“Ups..” Aku terdiam seketika. Bantal itu melesat mulus di dada Azka Denies.
Entah apa yang dilakukan lelaki ini dirumah ku kali ini. Tepatnya di Kamar Mas Revan. Sejak kapan dia berdiri disana. Apakah dia mendengar pembicaraanku dengan Mas Revan? Aghr.. tidak.. jangan sampai itu terjadi. Rasa Maluku sumpah bukan kepayang. Andai aku bisa meleleh, pasti aku sudah lebur tak karuan.
“ hahahahah…. Kasian deh lu gak kenk” Ledek Mas Revan. Sial banget dia. Malah ngeledekin aku disaat yang tidak tepat seperti ini.
“ aduh aduh, Maaf kak. Enggak sengaja” aku meminta maaf pada Azka. Sedangkan Azka hanyamenyunggingkan senyuman yang mematikan itu. Membuatku semakin salah tingkah di hadapannya bingung harus melakukan apa lagi.
Akupun bergegas keluar kamar Mas Revan dan mewurungkan niatanku untuk mengambil Dvdku. Sumpah gila, Azka hampir bikin jantungku copot. Terang saja aku kaget. Siang bolong gini tiba-tiba aku mendapati Azka di kamar Mandi Mas Revan. Sedang apakah dia disini? Tidakah dia sibuk dengan kuliahnya? Ah entahlah. Yang jelas pertemuan pertamaku ini dengan Azka membuatku sangat bahagia sekali. Orang yang selalu aku impikan kini hadir nyata kembali dalam hidupku. J
Dan setelah di usuk melalui keterangan Mas Revan. Ternyata kali ini mereka satu fakultas dan satu jurusan pula. Tepatnya di pendidikan dokter. Kebetulan yang sangat menakjubkan bukan? Orang yang aku kagumi selama ini ternyata kali ini satu jurusan dengan kakak ku. Ah, Azka. Akhirnya engkau mendapatkan lagi apa yang kau inginkan. Dia sudah mendapatkan program studi yang telah lama di tekuninya. Bahkan sebelum masuk universitaspun sudah lama dia mencoba untuk mempelajari prodi tersebut. Terbukti ketika beberapa waktu yang lalu aku mendapatinya tengah belajar ilmu kedokteran di perpustakaan sekolah.
( ˘ ³˘)♥










Novel : Arti Cinta 9



SEMBILAN ( ˘ ³˘)♥
Cuaca siang hari ini terasa gerah sekali. Padahal kipas dan jendela kamar sudah ku nyalakan dan di buka. Tapi entah mengapa masih terasa gerah hingga membuat konsentrasiku bubar mengerjakan tugas . pasalnya sudah seminggu lagi akan ujian kenaikan kelas. Sedangkan tugas ku masih banyak yang belum kelar. Yah, seminggu menjelang ujian guru-guru memang gila-gilaan member tugas. Padahal sudah mau ujian. tapi masih saja tugasnya bejibun. Sumpek gila jadinya. Bahkan Minggu siang kali ini lebih ku manfaatkan untuk mengerjakan tugas daripada bermain. Cukup melelahkan memang. Apalagi minggu siang kali ini terasa terik sekali. Membuatku kegerahan dan ingin menikmati makanan yang seger-seger.
Teringat akan yang seger-seger. Tiba-tiba aku teringat penjual es puter yang jualan tak jauh dari rumahku. Mungkin hanya sekitar 5 menitan menggunakan motor. Akupun mencari mas Revan untuk memintanya mengantarkanku Beli es.
“ Mas, anterin belie s puter dunk di daerah pangsud” pintaku manja
“ Aduh dek sorry banget. Mas Revan mau mandi dulu nih. Mas Revan sudah ada janji sama Mia ntar lagi. Ntar kalau telat kan enggak enak” tolak Mas Revan
“ ya Ampun mas, bentaran duank”
“aduh sorry dek, beneran deh. Keburu telat” tolak mas Revan sekali lagi yang membuatku kecewa. Tanpa basa-basi lagi aku langsung meninggalkan mas Revan yang telah bersiap-siap untuk mandi.
Sumpah demi apa deh, Mas Revan yang biasanya penurut dan penyayang banget sama adeknya kali ini seperti itu. Justru mementingkan orang lain yang tak lain adalah sahabatku sendiri. Menyebalkan banget. Penting mana sih sebenarnya. Aku sebagai adeknya atau Mia yang orang. Benar sih pacarnya, tapi tak bisakah mengantarkanku hanya sebentar saja?
Dengan perasaan yang masih berapi-api, akhirnya aku memutuskan untuk pergi sendiri ke pangsud untuk membeli es puter sesuai keinginanku. Ku ambil sepeda gunung milik Mas Revan yang dulu dia pakai ketika masih SMP. Dengan hati kecewa dan masih emosi, ku gayuh sepeda gunung tersebut yang sudah tampak sedikit buluk. Sesampai ditempat yang dituju. Aku memesan beberapa bungkus untuk ku nikmati di rumah. Dan tanpa perlu menunggu lama, es puter yang ku inginkanpun telah ku peroleh.
Namun sungguh sial kali ini. Saat dalam perjalanan pulang, sepeda gunung yang kunaiki tiba-tiba los. Akupun berhenti di tepian jalanyang dingin. Ku coba memperbaiki rantai jeruji besi yang los itu. Dan ku coba untuk memperbaikinya. Semakin membuat hatiku panas dan emosi di siang hari ini.  Berulang kali kucoba untuk memperbaikinya. Namun tetap saja gagal. Dengan putus asa dan bingung, akhirnya aku duduk terlebih dahulu ditepian jalan bersama sepedaku yang masih los. Harus kemanakah aku mencari bengkel? Tlpn papa atau mama enggak mungkin juga. Beberapa jam yang lalu mereka baru berangkat ke rumah tanteku yang di Surabaya. Akupun semakin kebingungan harus mencari bantuan kemana. Ingin rasanya aku menangis waktu itu. Namun kutahan.
Tiba-tiba, terlintas dipikiranku untuk menghubungi Excell. Kali aja dia lagi gak sibuk
“Cell.. lo dimana?” tanyaku langsung ketika telpon diangkat. Masih dengan nada panik.
“ada apa cha? Aku lagi maen di rumah Nino nih”
“ aduh, jauh gak dari pangsud? Kalau gak jauh bisa gak lo kesini bentaran aja. Sepeda aku los nih. Bingung” kataku bertubi-tubi dan mulai terisak karena kebingungan.
“ loh cha, kamu dimana? Tenang dulu yah, aku kesana bentar lagi. Tenangin diri kamu” balas Excell yang tampaknya panik juga disebrang telpon sana.
“ Hks, hks. Kalau jauh dari rumah Nino enggak apa deh cell. Biar ntar aku cari bantuan orang lain aja”
“ enggak kok deket cha, gue kesana bentar lagi. Tungguin ya” kata Excell yang di ikuti dengan telpon yang terputus.
Akupun mulai sedikit tenang karena Excell bakalan datang untuk membantuku. Namun sudah hampir setengah jam Excell tak kunjung tiba. Masak iya kena macetkah? Pikiranku semakin tak karuan dan rasa khawatir menyergapku lagi.
Ku coba menelfon Excell lagi untuk memastikan dimana keberadaannya. Namun belum sempat telpon diangkat, tampak motor Gp merah milik Excell mendekat kearahku. Syukurlah dia sudah datang.
“Loh cha, gimana ceritanya kamu bisa ada disini? Sendirian pula” tanya Excell yang tampak panik.
“ tadi aku mau beli es, trus gak ada yang mau nganter. Yudah deh beli sendiri. Eh gak taunya sepeda malah los” terangku pada Excell. Terang saja kalau  sepedanya los. Ya wajar sih, orang sepeda ini sudah lama enggak di gunakan.
“ gitu kenapa enggak telpon aku aja?” tanya Excell sembari mulai mengecek sepedanya “emang Mas Revan kemana?”
“ tau tuh nyebelin banget. Masak ia gak mau anterin aku gara-gara takut telat ketemu sama Mia. Nyebelin banget tau enggak”
“ohhh gitu, ya mungkin saja mereka ada acara cha”  terang excell menenangkanku
“tetep aja nyebelin” keluhku sembari membantu Excell memegangi sepeda.
Beberapasaat kemudian, sepedaku kini sudah bisa digunakan kebali. Excell mengantarkanku pulang dengan menggandeng alias menggeretku sembari bersepeda.
“gak mau masuk dulu cell?” tanyaku pada Excell
“enggak deh cha, enggak enak sendiri gak ada orang dirumahmukan?”
“iya sih hehhehe. Eh, btw thanks banget yah. Emangtadi rumah Nino dimana?” tanyaku dengan sedikit basa basi.
“hehehe, di daerah ranu yoso” terang Excell
“ ha? Katamu deket. Kan jauh cell dari pangsud. Gitu bilangnya deket. Bisa jadi 45 menit kalau perjalanan normal. Palingan tadi ngebut ya?” tanya ku menyelidik
“ hehehehe iya sih, kan kasian  ntar kamunya kalau kelamaan malah nangis lagi. Hahahaha” ledek Excell
“ huu,,, sialan kau”
( ˘ ³˘)♥

Tak terasa Azka sudah resmi lulus dari sekolah ku. Pertanda dia sudah mungkin tidak akan pernah datang kesekolah lagi. Dan itu membuat hari-hariku terasa sepi. Dengar-dengar Azka menjadi lulusan terbaik no 3 sekotaku. Itu tandanya berarti dia lulus. Dengan nilai baik pula. Syukurlah. Dan menurut berita yang beredar, dia telah diterima di PTN favorit dikotaku. Sedangkan dengan Mas Revan juga begitu pula. Dia telah diterima di PTN yang di inginkannya. Dan itu membuat Mas Revan semakin sibuk pula. Sudah seminggu terakhir ini dia jarang dirumah untuk mengurus berkas-berkas yang harus dilengkapi untuk kampusnya. Semakin sepii bnaget rumah tidak ada dia.
Seperti yang sedang ku rasakan saat ini dikantin sekolah bersama Mia. Tersa sepi banget tidak bisa mendapati Azka lagi. Apalagi besok senin sudah ulangan  kenaikan kelas. Pertanda aku harus belajar lebih giat lagi untuk masuk dijurusan yang ku inginkan.
“ Kok sepi gini yah?” tanyaku pada Mia yang tengah asik makan Mie Baksonya
“ sepi? Orang rame gini loh. Kamunya aja paling yang gitu. Soalnya udah gak ada Azka lagi disekolah. Jadi merasa kesepian deh” tukas Mia lemah lembut
“ Iya kali yah “
“ iya iyalah.. mau apa lagi? Tuh kan kamunya jadi patah hati lagi?? Udah dibilang jangan ngarep terlalu sekarang patah hati lagi deh jadinya”
“ iya sih Mia. Tapi rasanya enggak rela banget dia udah lulus dari sini.
Jadi ga bisa ketemu lagi. Kamu maintain nomernya dunk ke Mas Revan dia kan temennya. Paling enggak Mas Revan nyimpen nomermya. Yayayayaya?” pintaku sedikit memaksa
“yee.. bisa dibunuh aku cha sama Mas kamu. Lah wong aku ceweknya ngapa pula aku minta nomer cowok lain. Lah knapa enggak kamu sendiri aja yang minta? Kan adeknya!!”
“ya malu lah Mia… dikira ada apaan lagi”
“ hey.. ada neng ocha. Boleh gabung neng?” Tanya Nico yang tiba-tiba entah dari mana munculnya. Yah, beberapa terakhir ini dia memang sering menghubungiku. Sepertinya dia ada itikat untuk mendekatiku.
“ oh, boleh. Silahkan” kataku mempersilahkan. Terang saja aku tak dapat menolaknya. Kantin ini merupakan tempat umum. Jadi siapa saja bisa menggunakannya.  Tampak Nico yang berusaha menarik perhatianku dengan  mengajakku bercanda dan ngobrol dengan asyik. Membuatku sedikit lupa akan hari-hariku yang sepi tanpa adanya Azka. Ternyata Nico orangnya cukup asyik untuk di jadikan teman ngobrol.
( ˘ ³˘)♥
Besok merupakan hari terakhir ujian Akhir. Namun entah mengapa semangat belajarku semakin menurut. Seolah kehilangan arah dan terbebani sesuatu hal yang sangat berat. Namun entah apa. Membuat pikiranku semakin jenuh akan semua.
Ku tutup buku materi untuk ulangan besok dan aku segera bergegas untuk berdiri dari meja belajarku. Pikiranku terasa jenuh sekali seolah tak bisa mengolah lagi apa yang aku pelajari. Sehingga aku memutuskan untuk Chat saja Di Ym. Sapa tau ada Reza yang lagi On.
Namun di luar dugaanku. Kali ini Reza tidak On seperti yang aku harapkan. Padahal biasanya dia selalu hadir kapanpun saat aku menginginkanya. Namun tidak kali ini. Kemana perginya dia. Apakah dia sedang memiliki kesibukan? Ataukan memang aku yang sudah jarang on sehingga membuatnya jarang On juga? Ya, memang beberapa minggu terakhir ini aku sangat jarang sekali on. Bahkan untuk tegur sapa dengan Reza saja sudah jarang. Akhirnya ku urungkan niatku untuk chat. Membuat mood ku hilang seketika ketika tidak mendapati Reza di YM. Dan kuputuskan untuk bersantai saja di ranjang sembari mendengarkan music. Tiba-tiba Hpku berbunyi. Pertanda ada panggilan masuk.
Ku lirik layar Hpku. Ternyata dari nico. Dan ku angkat telpon dari Nico. Akhir-akhir ini aku memang semakin dekat dengan dia. Ternyata dia cukup menarik juga. Dan jujur saja, dia mampu mengalihkan perhatianku akan Azka. Dan aku senang, dia bisa mengisi hari-hariku yang terasa Hampa dengan canda tawanya yang sering menyapaku walau hanya sekedar dari sms, hp, ataupun saat istirahat.
“ Hallo..” spaku
“hai cha.. ganggu gak nih?” Tanya Nico basa-basi disebrang telpon
“enggak sih. Ada apa”
“ hehehe, gak ada apa-apa sih. Cuma pengen denger suara kamu aja. Eh besok pulang sekolah ikut yuk ke café bean. Besok kan udah terakhir ulangan tuh. Aku teraktir deh?” pinta Nico
“ em.. gimana ya? Lihat besok deh ya” jawabku terus terang aku masih belum tau. Karena besok belum tau juga jadwalku kemana. Takutnya sudah ada janji atau gimana. Pembicaraan kamipun berlanjut ke berbagai hal. Mulai dari hal yang tidak penting sampai curcol pun kami bicarakan. Diam-diam Nico telah mencuri hatiku.
( ˘ ³˘)♥

“eh, gimana? Ntar jadikan?” Tanya Nico pagi ini saat aku baru sampai ruang ujian. . Yah, dalam Semester kali ini aku dan Nico memang satu ruangan. Walaupun tidak duduk sebangku, namun membuat intensitaf kedekatan kami semakin terlihat.
“em.. boleh. Tapi bentar aja yah kak” kataku mengiyakan ajakan Nico. Toh hari ini merupakan ulangan semester terakhir. Mulai senen besok sudah mulai class meat yang biasanya diisi dengan remedial anak-anak yang nilainya masih dibawah KKM.
            Ujian hari ini berlanjar cukup lancar. Beruntung semalam aku sempat belajar walaupun tidak terlalu banyak. Jadi masih bisa mengerjakan soal-soalnya dengan baik yang InsyaAllah benar.
“ eh cha, jadi mau ke tempat Mia gak?” Tanya Excell saat keluar ruangan ujian. yah, ujian kali ini aku dan Excell memang berbeda ruangan.
“ em.. kayaknya enggak deh cell. Aku udah kadung ada janji nih” balasku ke Excell
“ Emang janji sama siapa? Katanya mau lihat Mia latihan Teater buat pementasannya” Tanya Excell menyelidik
“ aduh, tapi maaf banget deh kali ini. Next time aja yah. Senin mungkin. Hari ini aku ada janji sama Nico. Aku duluan yah” pintaku undur diri setelah Nico mengerim pesan singkat padaku
“ cha,,,” panggil Excell di belakangku yang tak kuhiraukan lagi karna Nico telah menunggu di gerbang sekolah. Dengan langkah lebar aku melangkah menuju gerbang sekolah. Tampak disana Nico telah menunggu dengan motornya.
Sesuai dengan rencana, aku dan Nico menuju ke café yang di maksud oleh Nico. Dan tentunya pulang juga bareng sama Dia. Bukan sama Excell lagi. Yah, akhir-akhir ini aku memang lebih sering pulang bareng Excell karena arah kami searah. Sedangkan biasanya kalau berangkat Papa yang mengantarkanku kesekolah.
“ cha.. mau pesan apa? “ Tanya Nico sesampai di café yang kita tuju
“ terserah deh kak. Ngikut aja” kataku ramah
Nicopun memesankaku makanan. Setelah memesan pesanan kami, aku dan Nico ngobrol berbagai hal yang diwarnai dengan canda tawa kami. Ternyata dia orangnya gokil juga. Dan ternyata dia romantic juga. Membuatku tersentuh saja ketika mengetahui bahwa dia memesankanku sebuah cake berbentuk hati yang mungil. Membuatku sayang untuk memakannya. Udah gitu dia perhatian pula. Benar-benar cowok idaman. Perhatian banget. Ehh
( ˘ ³˘)♥
Setelah pertemuanku dengan Nico yang terakhir kali itu, ternyata membekas dihatiku. Entah mengapa, seolah membuatku selalu tersenyum seperti malam hari ini dan membuatku lupa akan kesepianku dari Azka Denies. Ah.. apa ini? Apakah ini cinta? Tapi begitu cepatkah? Belum genap sebulan aku dekat dengan Nico, tapi dia sudah mampu membuatku tak karuan. Perasaanku seperti meletup-letup bagaikan pop corn. Mungkinkah iya ini cinta? Entahlah
Yang jelas aku sangat menikmati hubunganku saat ini dengan Nico. Seorang capten basket yang bertubuh jangkung itu mampu membuat hidupku lebih berwarna lagi.
Ah, selesai sudah ulangan semester kali ini. Membuatku seolah bebas dan leluasa untuk melakukan segala hal yang ku inginkan
Ku nyalakan PC komputer dikamarku. Dan ku buka YM ku. Semoga saja ada Reza. Aku ingin menceritakan tentang Nico dan sudah lama aku tidak chat dengannya. Membuatku sedikit kangen dengan Reza. Beruntung ternyata dia On juga.
Aku: haiii.. long time not see you.. make me miss you guys
Reza : hahahaha really? Me too cha J
Reza : how are you? How about ur exam?
Aku : fine. U?
Aku : Im happy now J
Reza : really? Bukankah terakhir kita chat kamu bilang sedih gara-gara di tinggal pujaan hatimu itu? J
Aku : hahha iya, tapi sekarang sudah enggak lagi. Did you know?
Reza : no !! tell me please
Aku : oke
Aku: akhir-akhir ini aku dkat sama seseorang
Reza: oh ya?
Aku : ya.. dia kakak kelasku. Selama ujian kemarin dia satu ruangan denganku
Reza : ow..
Aku : tadi aku habis keluar sama dia
Reza : hmm..
Aku : ternyata orangnya asik. Ngegemesin pula
Reza : boneka kali..
Aku : tapi benar-benar lucu rez..
Reza : iya iya.. percaya deh sama kamu cha J
Aku : Senyumannya sungguh indah. Sepertinya dia berusaha mendekatiku
Reza : sebaiknya kamu berhati-hati
Aku : Why?
Reza : tidak semua cowok baik
Aku : I see.. but dia perhatian banget. Sungguh buat aku happy hari ini.

Semalam suntuk aku habiskan untuk chat dengan Reza. Tampak antara kami saling berdiskusi dan tukar pikiran. Tapi ada yang aneh dari Reza kali ini. Dia tampak begitu dingin. Apakah dia chat sembari melakukan sesuatu? Entahlah. Yang jelas aku merasa ada yang berbeda dari dia.
( ˘ ³˘)♥