Senin, 15 Oktober 2012

Novel : Arti Cinta 9



SEMBILAN ( ˘ ³˘)♥
Cuaca siang hari ini terasa gerah sekali. Padahal kipas dan jendela kamar sudah ku nyalakan dan di buka. Tapi entah mengapa masih terasa gerah hingga membuat konsentrasiku bubar mengerjakan tugas . pasalnya sudah seminggu lagi akan ujian kenaikan kelas. Sedangkan tugas ku masih banyak yang belum kelar. Yah, seminggu menjelang ujian guru-guru memang gila-gilaan member tugas. Padahal sudah mau ujian. tapi masih saja tugasnya bejibun. Sumpek gila jadinya. Bahkan Minggu siang kali ini lebih ku manfaatkan untuk mengerjakan tugas daripada bermain. Cukup melelahkan memang. Apalagi minggu siang kali ini terasa terik sekali. Membuatku kegerahan dan ingin menikmati makanan yang seger-seger.
Teringat akan yang seger-seger. Tiba-tiba aku teringat penjual es puter yang jualan tak jauh dari rumahku. Mungkin hanya sekitar 5 menitan menggunakan motor. Akupun mencari mas Revan untuk memintanya mengantarkanku Beli es.
“ Mas, anterin belie s puter dunk di daerah pangsud” pintaku manja
“ Aduh dek sorry banget. Mas Revan mau mandi dulu nih. Mas Revan sudah ada janji sama Mia ntar lagi. Ntar kalau telat kan enggak enak” tolak Mas Revan
“ ya Ampun mas, bentaran duank”
“aduh sorry dek, beneran deh. Keburu telat” tolak mas Revan sekali lagi yang membuatku kecewa. Tanpa basa-basi lagi aku langsung meninggalkan mas Revan yang telah bersiap-siap untuk mandi.
Sumpah demi apa deh, Mas Revan yang biasanya penurut dan penyayang banget sama adeknya kali ini seperti itu. Justru mementingkan orang lain yang tak lain adalah sahabatku sendiri. Menyebalkan banget. Penting mana sih sebenarnya. Aku sebagai adeknya atau Mia yang orang. Benar sih pacarnya, tapi tak bisakah mengantarkanku hanya sebentar saja?
Dengan perasaan yang masih berapi-api, akhirnya aku memutuskan untuk pergi sendiri ke pangsud untuk membeli es puter sesuai keinginanku. Ku ambil sepeda gunung milik Mas Revan yang dulu dia pakai ketika masih SMP. Dengan hati kecewa dan masih emosi, ku gayuh sepeda gunung tersebut yang sudah tampak sedikit buluk. Sesampai ditempat yang dituju. Aku memesan beberapa bungkus untuk ku nikmati di rumah. Dan tanpa perlu menunggu lama, es puter yang ku inginkanpun telah ku peroleh.
Namun sungguh sial kali ini. Saat dalam perjalanan pulang, sepeda gunung yang kunaiki tiba-tiba los. Akupun berhenti di tepian jalanyang dingin. Ku coba memperbaiki rantai jeruji besi yang los itu. Dan ku coba untuk memperbaikinya. Semakin membuat hatiku panas dan emosi di siang hari ini.  Berulang kali kucoba untuk memperbaikinya. Namun tetap saja gagal. Dengan putus asa dan bingung, akhirnya aku duduk terlebih dahulu ditepian jalan bersama sepedaku yang masih los. Harus kemanakah aku mencari bengkel? Tlpn papa atau mama enggak mungkin juga. Beberapa jam yang lalu mereka baru berangkat ke rumah tanteku yang di Surabaya. Akupun semakin kebingungan harus mencari bantuan kemana. Ingin rasanya aku menangis waktu itu. Namun kutahan.
Tiba-tiba, terlintas dipikiranku untuk menghubungi Excell. Kali aja dia lagi gak sibuk
“Cell.. lo dimana?” tanyaku langsung ketika telpon diangkat. Masih dengan nada panik.
“ada apa cha? Aku lagi maen di rumah Nino nih”
“ aduh, jauh gak dari pangsud? Kalau gak jauh bisa gak lo kesini bentaran aja. Sepeda aku los nih. Bingung” kataku bertubi-tubi dan mulai terisak karena kebingungan.
“ loh cha, kamu dimana? Tenang dulu yah, aku kesana bentar lagi. Tenangin diri kamu” balas Excell yang tampaknya panik juga disebrang telpon sana.
“ Hks, hks. Kalau jauh dari rumah Nino enggak apa deh cell. Biar ntar aku cari bantuan orang lain aja”
“ enggak kok deket cha, gue kesana bentar lagi. Tungguin ya” kata Excell yang di ikuti dengan telpon yang terputus.
Akupun mulai sedikit tenang karena Excell bakalan datang untuk membantuku. Namun sudah hampir setengah jam Excell tak kunjung tiba. Masak iya kena macetkah? Pikiranku semakin tak karuan dan rasa khawatir menyergapku lagi.
Ku coba menelfon Excell lagi untuk memastikan dimana keberadaannya. Namun belum sempat telpon diangkat, tampak motor Gp merah milik Excell mendekat kearahku. Syukurlah dia sudah datang.
“Loh cha, gimana ceritanya kamu bisa ada disini? Sendirian pula” tanya Excell yang tampak panik.
“ tadi aku mau beli es, trus gak ada yang mau nganter. Yudah deh beli sendiri. Eh gak taunya sepeda malah los” terangku pada Excell. Terang saja kalau  sepedanya los. Ya wajar sih, orang sepeda ini sudah lama enggak di gunakan.
“ gitu kenapa enggak telpon aku aja?” tanya Excell sembari mulai mengecek sepedanya “emang Mas Revan kemana?”
“ tau tuh nyebelin banget. Masak ia gak mau anterin aku gara-gara takut telat ketemu sama Mia. Nyebelin banget tau enggak”
“ohhh gitu, ya mungkin saja mereka ada acara cha”  terang excell menenangkanku
“tetep aja nyebelin” keluhku sembari membantu Excell memegangi sepeda.
Beberapasaat kemudian, sepedaku kini sudah bisa digunakan kebali. Excell mengantarkanku pulang dengan menggandeng alias menggeretku sembari bersepeda.
“gak mau masuk dulu cell?” tanyaku pada Excell
“enggak deh cha, enggak enak sendiri gak ada orang dirumahmukan?”
“iya sih hehhehe. Eh, btw thanks banget yah. Emangtadi rumah Nino dimana?” tanyaku dengan sedikit basa basi.
“hehehe, di daerah ranu yoso” terang Excell
“ ha? Katamu deket. Kan jauh cell dari pangsud. Gitu bilangnya deket. Bisa jadi 45 menit kalau perjalanan normal. Palingan tadi ngebut ya?” tanya ku menyelidik
“ hehehehe iya sih, kan kasian  ntar kamunya kalau kelamaan malah nangis lagi. Hahahaha” ledek Excell
“ huu,,, sialan kau”
( ˘ ³˘)♥

Tak terasa Azka sudah resmi lulus dari sekolah ku. Pertanda dia sudah mungkin tidak akan pernah datang kesekolah lagi. Dan itu membuat hari-hariku terasa sepi. Dengar-dengar Azka menjadi lulusan terbaik no 3 sekotaku. Itu tandanya berarti dia lulus. Dengan nilai baik pula. Syukurlah. Dan menurut berita yang beredar, dia telah diterima di PTN favorit dikotaku. Sedangkan dengan Mas Revan juga begitu pula. Dia telah diterima di PTN yang di inginkannya. Dan itu membuat Mas Revan semakin sibuk pula. Sudah seminggu terakhir ini dia jarang dirumah untuk mengurus berkas-berkas yang harus dilengkapi untuk kampusnya. Semakin sepii bnaget rumah tidak ada dia.
Seperti yang sedang ku rasakan saat ini dikantin sekolah bersama Mia. Tersa sepi banget tidak bisa mendapati Azka lagi. Apalagi besok senin sudah ulangan  kenaikan kelas. Pertanda aku harus belajar lebih giat lagi untuk masuk dijurusan yang ku inginkan.
“ Kok sepi gini yah?” tanyaku pada Mia yang tengah asik makan Mie Baksonya
“ sepi? Orang rame gini loh. Kamunya aja paling yang gitu. Soalnya udah gak ada Azka lagi disekolah. Jadi merasa kesepian deh” tukas Mia lemah lembut
“ Iya kali yah “
“ iya iyalah.. mau apa lagi? Tuh kan kamunya jadi patah hati lagi?? Udah dibilang jangan ngarep terlalu sekarang patah hati lagi deh jadinya”
“ iya sih Mia. Tapi rasanya enggak rela banget dia udah lulus dari sini.
Jadi ga bisa ketemu lagi. Kamu maintain nomernya dunk ke Mas Revan dia kan temennya. Paling enggak Mas Revan nyimpen nomermya. Yayayayaya?” pintaku sedikit memaksa
“yee.. bisa dibunuh aku cha sama Mas kamu. Lah wong aku ceweknya ngapa pula aku minta nomer cowok lain. Lah knapa enggak kamu sendiri aja yang minta? Kan adeknya!!”
“ya malu lah Mia… dikira ada apaan lagi”
“ hey.. ada neng ocha. Boleh gabung neng?” Tanya Nico yang tiba-tiba entah dari mana munculnya. Yah, beberapa terakhir ini dia memang sering menghubungiku. Sepertinya dia ada itikat untuk mendekatiku.
“ oh, boleh. Silahkan” kataku mempersilahkan. Terang saja aku tak dapat menolaknya. Kantin ini merupakan tempat umum. Jadi siapa saja bisa menggunakannya.  Tampak Nico yang berusaha menarik perhatianku dengan  mengajakku bercanda dan ngobrol dengan asyik. Membuatku sedikit lupa akan hari-hariku yang sepi tanpa adanya Azka. Ternyata Nico orangnya cukup asyik untuk di jadikan teman ngobrol.
( ˘ ³˘)♥
Besok merupakan hari terakhir ujian Akhir. Namun entah mengapa semangat belajarku semakin menurut. Seolah kehilangan arah dan terbebani sesuatu hal yang sangat berat. Namun entah apa. Membuat pikiranku semakin jenuh akan semua.
Ku tutup buku materi untuk ulangan besok dan aku segera bergegas untuk berdiri dari meja belajarku. Pikiranku terasa jenuh sekali seolah tak bisa mengolah lagi apa yang aku pelajari. Sehingga aku memutuskan untuk Chat saja Di Ym. Sapa tau ada Reza yang lagi On.
Namun di luar dugaanku. Kali ini Reza tidak On seperti yang aku harapkan. Padahal biasanya dia selalu hadir kapanpun saat aku menginginkanya. Namun tidak kali ini. Kemana perginya dia. Apakah dia sedang memiliki kesibukan? Ataukan memang aku yang sudah jarang on sehingga membuatnya jarang On juga? Ya, memang beberapa minggu terakhir ini aku sangat jarang sekali on. Bahkan untuk tegur sapa dengan Reza saja sudah jarang. Akhirnya ku urungkan niatku untuk chat. Membuat mood ku hilang seketika ketika tidak mendapati Reza di YM. Dan kuputuskan untuk bersantai saja di ranjang sembari mendengarkan music. Tiba-tiba Hpku berbunyi. Pertanda ada panggilan masuk.
Ku lirik layar Hpku. Ternyata dari nico. Dan ku angkat telpon dari Nico. Akhir-akhir ini aku memang semakin dekat dengan dia. Ternyata dia cukup menarik juga. Dan jujur saja, dia mampu mengalihkan perhatianku akan Azka. Dan aku senang, dia bisa mengisi hari-hariku yang terasa Hampa dengan canda tawanya yang sering menyapaku walau hanya sekedar dari sms, hp, ataupun saat istirahat.
“ Hallo..” spaku
“hai cha.. ganggu gak nih?” Tanya Nico basa-basi disebrang telpon
“enggak sih. Ada apa”
“ hehehe, gak ada apa-apa sih. Cuma pengen denger suara kamu aja. Eh besok pulang sekolah ikut yuk ke café bean. Besok kan udah terakhir ulangan tuh. Aku teraktir deh?” pinta Nico
“ em.. gimana ya? Lihat besok deh ya” jawabku terus terang aku masih belum tau. Karena besok belum tau juga jadwalku kemana. Takutnya sudah ada janji atau gimana. Pembicaraan kamipun berlanjut ke berbagai hal. Mulai dari hal yang tidak penting sampai curcol pun kami bicarakan. Diam-diam Nico telah mencuri hatiku.
( ˘ ³˘)♥

“eh, gimana? Ntar jadikan?” Tanya Nico pagi ini saat aku baru sampai ruang ujian. . Yah, dalam Semester kali ini aku dan Nico memang satu ruangan. Walaupun tidak duduk sebangku, namun membuat intensitaf kedekatan kami semakin terlihat.
“em.. boleh. Tapi bentar aja yah kak” kataku mengiyakan ajakan Nico. Toh hari ini merupakan ulangan semester terakhir. Mulai senen besok sudah mulai class meat yang biasanya diisi dengan remedial anak-anak yang nilainya masih dibawah KKM.
            Ujian hari ini berlanjar cukup lancar. Beruntung semalam aku sempat belajar walaupun tidak terlalu banyak. Jadi masih bisa mengerjakan soal-soalnya dengan baik yang InsyaAllah benar.
“ eh cha, jadi mau ke tempat Mia gak?” Tanya Excell saat keluar ruangan ujian. yah, ujian kali ini aku dan Excell memang berbeda ruangan.
“ em.. kayaknya enggak deh cell. Aku udah kadung ada janji nih” balasku ke Excell
“ Emang janji sama siapa? Katanya mau lihat Mia latihan Teater buat pementasannya” Tanya Excell menyelidik
“ aduh, tapi maaf banget deh kali ini. Next time aja yah. Senin mungkin. Hari ini aku ada janji sama Nico. Aku duluan yah” pintaku undur diri setelah Nico mengerim pesan singkat padaku
“ cha,,,” panggil Excell di belakangku yang tak kuhiraukan lagi karna Nico telah menunggu di gerbang sekolah. Dengan langkah lebar aku melangkah menuju gerbang sekolah. Tampak disana Nico telah menunggu dengan motornya.
Sesuai dengan rencana, aku dan Nico menuju ke café yang di maksud oleh Nico. Dan tentunya pulang juga bareng sama Dia. Bukan sama Excell lagi. Yah, akhir-akhir ini aku memang lebih sering pulang bareng Excell karena arah kami searah. Sedangkan biasanya kalau berangkat Papa yang mengantarkanku kesekolah.
“ cha.. mau pesan apa? “ Tanya Nico sesampai di café yang kita tuju
“ terserah deh kak. Ngikut aja” kataku ramah
Nicopun memesankaku makanan. Setelah memesan pesanan kami, aku dan Nico ngobrol berbagai hal yang diwarnai dengan canda tawa kami. Ternyata dia orangnya gokil juga. Dan ternyata dia romantic juga. Membuatku tersentuh saja ketika mengetahui bahwa dia memesankanku sebuah cake berbentuk hati yang mungil. Membuatku sayang untuk memakannya. Udah gitu dia perhatian pula. Benar-benar cowok idaman. Perhatian banget. Ehh
( ˘ ³˘)♥
Setelah pertemuanku dengan Nico yang terakhir kali itu, ternyata membekas dihatiku. Entah mengapa, seolah membuatku selalu tersenyum seperti malam hari ini dan membuatku lupa akan kesepianku dari Azka Denies. Ah.. apa ini? Apakah ini cinta? Tapi begitu cepatkah? Belum genap sebulan aku dekat dengan Nico, tapi dia sudah mampu membuatku tak karuan. Perasaanku seperti meletup-letup bagaikan pop corn. Mungkinkah iya ini cinta? Entahlah
Yang jelas aku sangat menikmati hubunganku saat ini dengan Nico. Seorang capten basket yang bertubuh jangkung itu mampu membuat hidupku lebih berwarna lagi.
Ah, selesai sudah ulangan semester kali ini. Membuatku seolah bebas dan leluasa untuk melakukan segala hal yang ku inginkan
Ku nyalakan PC komputer dikamarku. Dan ku buka YM ku. Semoga saja ada Reza. Aku ingin menceritakan tentang Nico dan sudah lama aku tidak chat dengannya. Membuatku sedikit kangen dengan Reza. Beruntung ternyata dia On juga.
Aku: haiii.. long time not see you.. make me miss you guys
Reza : hahahaha really? Me too cha J
Reza : how are you? How about ur exam?
Aku : fine. U?
Aku : Im happy now J
Reza : really? Bukankah terakhir kita chat kamu bilang sedih gara-gara di tinggal pujaan hatimu itu? J
Aku : hahha iya, tapi sekarang sudah enggak lagi. Did you know?
Reza : no !! tell me please
Aku : oke
Aku: akhir-akhir ini aku dkat sama seseorang
Reza: oh ya?
Aku : ya.. dia kakak kelasku. Selama ujian kemarin dia satu ruangan denganku
Reza : ow..
Aku : tadi aku habis keluar sama dia
Reza : hmm..
Aku : ternyata orangnya asik. Ngegemesin pula
Reza : boneka kali..
Aku : tapi benar-benar lucu rez..
Reza : iya iya.. percaya deh sama kamu cha J
Aku : Senyumannya sungguh indah. Sepertinya dia berusaha mendekatiku
Reza : sebaiknya kamu berhati-hati
Aku : Why?
Reza : tidak semua cowok baik
Aku : I see.. but dia perhatian banget. Sungguh buat aku happy hari ini.

Semalam suntuk aku habiskan untuk chat dengan Reza. Tampak antara kami saling berdiskusi dan tukar pikiran. Tapi ada yang aneh dari Reza kali ini. Dia tampak begitu dingin. Apakah dia chat sembari melakukan sesuatu? Entahlah. Yang jelas aku merasa ada yang berbeda dari dia.
( ˘ ³˘)♥

Minggu, 14 Oktober 2012

kata-kata cinta

Just About Love.
  •  
  • cinta sejati adalah mengetahui apa kelemahan orang yang kita cintai. dan kita akan lebih mencintainya ketika kita telah mengetahui kelemahan pasangan kita.
  • betapa specialnya kata-kata pun tak akan pernah mampu untuk menggambarkan betapa specialnya engkau dalam hidupku.
  • cinta jika memang di takdirkan untuk bersama, bagaimanapun orang berusaha untuk memisahkan akan tetap bertahan.
  • percaya ataupun tidak. sejatinya cinta dapat merubah musim dingin dihati menjadi musim panas.
  • untuk memahami apa itu kebahagiaan kamu harus mengetahui dulu apa itu duka. tanpa kamu mengerti apa itu duka mustahil rasanya kamu dapat merasakan bahagia. 
  • kepada siapa kamu akan bertanya saat hanya ada satu orang yang mampu menghapus tangismu. namun orang yang kamu harapkan itu tak dapat juga menghapus dukamu? justru orang yang seharusnya menghapus dukamu kini yang telah membuatmu menangis?
  • pantaskah cinta itu datang kepada siapa saja dan tak kenal entah orang itu ada yang memiliki ataupun tidak?
  • sadarkah sejatinya kesempatan itu hanya datang sekali saja. jangan engkau menyia-nyiakan kesempatan di depan mata. bisa jadi kesempatan yang telah engkau abaikan itu akan menjadi berharga di kemudian hari.

Sabtu, 13 Oktober 2012

Novel : Arti Cinta 8


DELAPAN ( ˘ ³˘)♥
Tak terasa, sudah seminggu  Mas Recvan dan Azka meninggalkan kota tercinta ini. Pertanda hari ini mereka seharusnya sudah pulang. Namun hingga sore, mas Revan belum tampak juga dirumah. Padahal kemarin dia sempat mengabarkan bahwa hari ini dia akan sampe rumah pagi hari.
Dengan harap-harap cemas, aku dan Mia menunggu kedatangan Mas Revan. Bagaimana tidak, hingga sore sepertii ini dia tak kunjung tiba dan tak memberikan kabar sedikitpun. Padahal aku dan Mia telah menyiapkan supriese. Mia kali ini ada di rumah dan sengaja mau memberikan kue buatannya dan juga memberikan jawaban atas cintanya. Mumpung dirumah tidak ada orang.

Dengan tak sabar, akhirnya aku memutuskan untuk menelfon Mas Revan. Namun masih tetap tak ada jawaban. Ini semakin mebuatku khawatir dan gelisah. Namun, di tengah-tengah kegelisahanku, terdengar suara pintu depan terbuka. Itu pasti Mas Revan.
Aku langsung menghambur pergi ke ruang tamu untuk menengok siapakah gerangan yang datang. Ternyata benar, seperti dugaanku. Itu adalah Mas Revan. Namun yang di luar dugaanku adalah, dia datang bersama Azka.
“ Assalamualaikum, mas Revan pulang” sapa Mas Revan ketika melihatku sembari memelukku hangat,
Sedangkan aku hanya tersipu malu ketika dipeluk seperti anak kecil dihadapan Azka. Sedangkan Azka hanya tersenyum kecil. Ya ampun, senyuman itu. Sungguh, menyenangkan sekali bisa mendapatinya tengah tersenyum manies sepeerti itu.
“eh, mas. Aku ada supries deh buat mas Revan”kataku sembari menuntun Mas Revan masuk ke ruang keluarga
“really?” ….” Hem, ada cewek manies nih. Inikah supriesnya?” Tanya Mas Revan sembari tersenyum lebar.
Tampak mereka masih sama-sama saling malu-malu. Dan aku sengaja meninggalkan mereka bertiga ke dapur untuk membawakan minuman. Aku yakin mereka pasti masih capek setelah perjalanan jauh dari bandung.
Setelah akukembali dari dapur dengan membawa nampan yang berisi minuman, tampak hanya Mas Revan dan Mia saja yang tengah asik ngobrol berdua di ruang tengah. Sedangkan Azka sudah menghilang dari ruang tengah. Akhirnya, aku memutuskan untuk mencari Azka di ruang tamu. Sekalian menghindar dari Mas Revan Dan Mia agar mereka lebih leluasa ngobrolnya.
Benar saja, ternyata Azka tengah duduk santai di ruang tamu. Tampak dia sedang asik mendengarkan lagu dari ipod dengan mata yang terpejam. Mungkin dia masih kecapean. Sebenarnya tak ingin mengganggu, namun tak disangka sesuatu yang tak di inginkan terjadi. Kakiku tersandung meja tamu, yang membuat nampan berisi minuman kaleng itu terjatuh. Dan otomatis membuat Azka terjaga mendengar benturan itu yang sedikit berisik. Aku hanya mengaduh pelan dan memijat-mijat kakiku yang terkilir. Aku tak ingin menggaggu momen-momen romantic Mas Revan dan Mia.
“ kamu gak papa?” tanya Azka masih tak berekspresi membantuku terbangun dan membereskan minuman yang berserakan
“ enggak apa kok kak” sahutku sembari meletakkan minuman yang sempat jatuh berserakan “ diminum kak” kataku mempersilahkan. Kemudian aku pamit undur diri
“ mau kemana?” tanya Azka tiba-tiba “masak iya tamu ditinggal sendirian?”
Eh.. sumpah aku dilema kali ini. Salting banget. Seneng sih bisa bareng dia, tapi ini cukup menyiksaku juga. Bagaimana tidak, aku geroginya minta ampun dan bingung mau melakukan apa saat berada didekatnya. Tapi aku bahagia kali ini bisa mendapatkan momen seperti ini.
“ Gimana di sekolah? Masih sepikah?” Tanya Azka tiba-tiba membuka pertanyaan dan membubarkan lamunanku tentang Azka.
“ iya.. akhir-akhir ini disekolah sepi banget” jawabku secara reflek”
“ loh, emang siswanya pada kemana?”
“ Oh, enggak bukan.bukan itu maksudnya. Maksudnya disekolah akhir-akhir ini gak asik. Banyak tugas”  terangku mengelak sembari tersipu malu.
“ Oh gitu, iya sih. Aku pun merasa sepi. Biasanya ada yang merhatiin, sekarang enggak lagi” kata Azka tiba-tiba. Membuatku sulit untuk memahami kata-katanya. Apa maksud dari pembicaraannya itu. Apakah yang dimaksud aku? Apakah selama ini dia tahu kalau diam-diam aku mengaguminya? Ahrgghh,… tidakkkkkk. Tapi entahlah. Ini semua membuatku begitu malu. Malu gak ketulungan kalau saja dia sampai tau.
( ˘ ³˘)♥
Tak terasa, pengumuman kelulusan akhirnya akan segera di umumkan hari ini juga. Aku turun dagdig dug menunggu hasil pengumuman hari ini untuk kelulusan Mas Revan dan Azka. Aku berharap mereka bisa lulus dengan nilai yang baik. Aku sendiri menunggu info hasil pengumuman di ruang bimbingan, karena hari ini aku masih ada bimbingan Kimia bersama Excell. Sedangkan Mia menemaniku dan turut ikut bimbingan, walaupun aku tau. Sedari tadi dia gelisah menunggu sms dari sang pacar yang tak lain adalah kakaku sendiri.
Tampak kegugupanku dari konsentrasiku yang mulai menurun. Bolak balik salah saat menghitung maupun mereaksikan unsur kimia. Hingga akhirnya terdengar teriakan di halaman sekolah. Para siswa pada berhamburan dihalaman sekolah bahagia dengan kelulusan mereka. Aku pun keluar dari ruang bimbingan ikut menyaksikan kebahagiaan mereka.
Ku edarkan arah pandangku kesekitar halaman sekolah. Mencari sosok Azka. Aku ingin tau kabar kelulusannya. Biarpun tidak tanya langsung, setidaknya aku bisa tau dari raut mukanya. Namun ternyata orang itu tak dapat ku temui. Membuatku kecewa yang masih diikuti rasa penasaran.
Sedangkan beberapa saat kemudian, hpku bergetar hampir bersamaan dengan Mia. Ternyata sms Dari mas Revan mengabarkan bahwa dia lulus. Syukurlah, aku turut senang mendengarnya. Lalu, bagaimanakah dengan Azka. Bagaimana dengan keadaannya sekarang. Aku tak dapat menemuinya. Apakah dia menghilang karena tidak lulus? Ah enahlah.
“Mia, gue masihkhawatir nih” kataku pada Mia
“ khawatir apaan cha?” sambung Excell tiba-tiba. Ternyata dia mendengar pembicaraanku dan Mia
“oh, bukan apa-apa kok cell” jawabku mengalihkan pembicaraan tak jujr pada Excell
“oh, begitu. Udah, gak perlu khawatir. Kan ada gue. Hahahaha” jawab Excell jahil seolah berusaha menghiburku
“eh.. hehehe, iyah cell” sahutku spontan dan berusaha tersenyum
Akhirnya akupun melanjutkan tugas untuk mengerjakan soal-soal kimia ini. Aku mencoba untuk konsentrasi terlebih dahulu. Karna pasalnya lomba sudah akan diadakan seminggu lagi. Namun jauh di lubuk hatiku terbesit rasa cemas dan berharap semoga Azka baik-baik saja dan lulus sesuai apa yang di harapkannya. Begitupun dengan aku.
Tapi tiba-tiba saat tengah asik mengerjakan soal-soal kimia, tiba-tiba kepalaku terasa berat. Entah apa yang membuat terasa pening. Ku tahan rasa nyeri yang menyerang disekujur tempurung tulang tengkorakku. Namun tetap saja rasa nyeri itu hinggap disana. Aku masih mencoba tetap bertahan untuk focus mengerjakan tugas kimia ini. Namun sia-sia. Kepalaku tetap terasa pusing dan berat yang tak tertahankan. Hingga membuat kepalaku tergeletak di atas tumpukan soal-soal.
“Cha, kamu kenapa?” Tanya Excell hamper bersamaan dengan Mia
“tau nih, kepala gue rasanya berat banget. Pusing” sahutku dengan meringis menahan kesakitan
“Aku antar pulang aja ya. Dari pada ntar kamu knapa-napa” kata Excell sembari mengecek suhu badanku. “toh, ini sudah akan selesai tugasnya. Kita lanjutkan besok saja. Apalagi bu Dewi kan sudah pulang. Lebih baik kita break dlu belajarnya. Besok kita lanjut lagi” saran Excell mengajak pulang.
“ iya, ayo sebaiknya kita pulang saja. Ini sudah hampir sore. Lagi pula, dirumah aku harus bantu mama untuk membuat kue. Besok omku mau tunangan” sambung Mia yang tampaknya ikut membujukku agar mau pulang.
Akhirnya aku mengiyakan ajakan mereka. Pasalnya kepalaku kali ini memang berat dan sudah tak dapat menahan rasa sakit ini.
Sesampai dirumah, mama menyambutku dengan penuh rasa khawatir dan juga papa. Tampaknya mereka baru selesai datang dari sekolah Mas Revan untuk mengambil hasil pengumuman kelulusan. Kemudian Mama yang dibantu Excell memapahku untuk menuju kamarku.
“ Jangan khawatir, semua orang akan baik saja kok. Jangan membuat dirimu tersiksa karena perasaan dan pikiranmu itu” kata Excell tiba-tiba setelah mama menghilang dari balik pintu kamarku. Aku hanya mengerjapkan mata berusaha mencerna kata-kata Excell yang secara tiba-tiba itu  “aku pulang dulu ya, istirahat yang cukup”
Kemudian Excell pun pamit undur diri. Aku masih bingung dengan kata-kata Excell tadi. Membuatku semakin berfikir keras.  Jangan khawatir, semua orang akan baik saja kok. Jangan membuat dirimu tersiksa karena perasaan dan pikiranmu itu kata-kataitu terngiang-ngiang dikepalaku. Apa maksud dari Excell tadi? Apakah yang dia maksud Azka? Apakah dia mengetahuinya? Entahlah. Dan disaat tidak tepat seperti ini, Nico tiba-tiba menghubungiku. Entah apa maksud dia. Dan dari mana pula dia dapat nomerku. Membuatku hanya bisa membalas ala kadarnya karna tidak terlalu konsen dan mempedulikan keberadaan nico.
( ˘ ³˘)♥
“hati-hati sayang” kata mama saat aku mulai menaiki bus mini milik sekolah.
Yah, kali ini merupakan hari keberangkatanku untuk melaksanakan tugas sekolah. Tepatnya untuk mengikuti lomba olimpiade Kimia bersama Excell dan siswa yang lain untuk olimpiade Mipa yang lain. Kali ini aku duduk bersama dengan Merry, salah satu siswa yang mewakil lomba fisika. Anaknya cantik dan manies. Putih bersih dengan pipi yang merah merona. Membuatnya tampak semakin cantik. Sedangkan Excell duduk dibelakangku bersama dengan Rio. Kakak kelas kami  yang mewakili olimpiade di bidang Matematika. Aku berharap lomba nanti akan berjalan lancar dan bisa membawa nama baik sekolah kami. Amiien
Aku senang bisa ikut mewakili sekolah kami untuk mengkuti lomba olimpiade di kota tetangga. Biarpun hanyalah tingkat propensi namun aku sudah cukup senang bisa bergabung dengan anak-anak yang lain yang tentunya pintar dibidang nya masing-masing. Apalagi anak-anaknya yang ikut olimpiade pada seru semua. Rame, lucu, gokil dan kocak banget. Membuat suasana Bus semakin ramai dan gaduh walaupun tak ada musik ataupun film yang diputar. Bahkan lebih asik seru-seruan bersama mereka. Tampak dari keasikan mereka yang saling tukar fikiran, cerita, dan soal-soal selama perjalanan. Salah satunya antara Aku, Excell, Merry dan kak Rio. Kami asik tanya jawab unsur-unsur kimia ataupun soal-soal yang lain. Bahkan tak jarang anak yang lain ikut nimbrung untuk menjawab soal-soal yang terkadang sedikit susah itu.
Sesampai di lokasi, kami langsung mempersiapkan diri dilokasi tempat lomba yang didampingi guru pembimbing masing-masing. Seperti halnya aku, Excel, dan bu Dewi kali ini.
Lomba olimpiade pun berjalan dengan cukup lancar. Aku mengerjakan semua soal-soal semaksimal mungkin. Beruntung kami sudah berlatih terlebih dahulu. Sehingga soal-soal yang ada dapat aku kerjakan dengan baik dan lancar.
 Hari mulai sore. Dan matahari akan terbenam. Acara lombapun telah selesai. Dan kami bergegas pulang. Sepulang dari olimpiade, tepatnya di tengah perjalanan, kami terjebak macet. Nampaknya sedang ada kecelakaan di depan sana. Mobil-mobilpun mengular karena macet di jalanan. Tak terkecuali bus yang kami tumpangi. Namun kami alihkan dengan canda tawa bersama anak-anak yang lain. Mereka tak klenal lelah meskipun seharian telah berpikir panjang. Tetapi saat tengah asik ngobrol dan tukarpikiran dengan Merry, tiba-tiba kepalakuterasa pening dan mual. Seperti mabok darat.
“cha, kamu kenapa?” tanya Merry
pusing mer.. mual nih” kataku sembari menutup mulut menahan rasa mual yang menyergap
“nih nih nih, pake kresek kalau mau muntah” kata Excell sembari menyodorkan kantong plastik. Tampaknya dia mengerti kalau aku tampak mabuk darat.
Beruntung beberapa saat kemudian, jalanan sudah mulai lancar kembali. Mungkin saja karena macet dan bus yang berjalan tersandat-sandat membuatku sedikit mual. Namun sekarang sudah tidak begitu lagi. Walaupun keringat dingin dan pusing masih menyerangku.
Beberapa saat kemudian, saat aku sudah hampir terlelap karena mengantuk, tiba-tiba bus kami berhenti ke tepian. Di ikuti anak-anak yang entah mengapa pada turun dari bus. Ku buka mata perlahan-lahan dan masih berusaha mengumpulkan kesadaranku.
“cha, ayo keluar. Busnya kayae macet deh” kata merry mengajakku turun. Kebetulan sekali, sedari tadi aku sudah ingin menghirup udara segar untuk menghilangkan rasa pusing dan keringat dingin ini karena mabok.
Akupun turun bersama Merry dan excell. Sesampai di bawah, aku langsung selonjoran di rerumputan taman sebuah bank. Yah, bus kami mogok berdekatan dengan sebuah bank. Jadi aku memutuskan untuk disana. Karena trotoar telah dipenuhi oleh anak-anak yang lain. Sungguh, dingin sekali cuaca malam hari ini. Aku hanya menyandarkan kepalaku di bahu Merry karena masih terasa pusing. Ingin rasanya aku segera sampai rumah. Mungkin karena belum makan juga aku jadi seperti ini.
Saat tengah asik tiduran di bahu merry, tiba-tiba Excell melemparkan jaket ke mukaku yang membuatku sedikit kaget.
“ nih pake, ntar kamu tambah masuk angin” kata excell tiba-tiba. Kebetulan sekali. Dia tau apa yang aku butuhkan. Beruntung memiliki teman seperti dia.
“ tau aja kalau aku kedinginan” kataku sembari merapatkan jaket tersebut ketubuhku. Sedangkan Excell tak menggubris ucapanku tapi justru pergi entah kemana. Aku tak sempat menanyakannya lebih banyak lagi, dia sudah berjalan jauh.
Beberapa saat kemudian, Excell datang sembari membawa air dan obat. Ternyata dia membelikanku obat mabuk. Akupun meminumnya.
“lama banget yah mogoknya” kata merry tiba-tiba
“iyah, sepertinya mesinnya ada yang hangus. Itu masih menghubungi bengkel terdekat” sahut Excell yang mulai bergabung duduk bersama ku dan teman-teman yang lain. Menunggu bus yang mogok kali ini menjadi ajang curcol juga. Tampak dari merry yang tampaknya baru patah hati setelah putus dengan nino yang ternyata kenal juga dengan Excell. Anak sekolah lain tapi Excell mengenalnya juga. Sedangkan aku lebih banyak diam mendengarkan ceria mereka. Apalagi cuaca cukup dingin malam itu. Entah mengapa Excell tampak berbeda dimataku kali ini. Dia menjadi sosok pria dewasa yang begitu perhatian. Bebeda dengan hari-hari biasa yang tampak seperti anak kecil
Tiba-tiba teringat lagi akan kata-kata Excell beberapa hari yang lalu. Dan kali ini masih tetap berhasil membuatku bingung dan penasaran.
( ˘ ³˘)♥